Sabtu, 29 November 2014

Serial Anak-Anak Mamak


Pertama kali saya membaca salah satu buku dari sequel Serial Anak-Anak Mamak, saya seketika langsung tercengang, terpesona, ingin rasanya membaca semua kisah-kisahnya. Tere Liye berhasil menyampaikan berbagai macam pemahaman baik dalam sequel ini.

Saat itu teman saya menyarankan saya membaca Pukat. Sebenarnya ia bukan hanya sekedar menyarankan, tapi juga meminjamkan. Jadilah saya saat itu membaca Pukat, buku pertama yang saya baca dari serial anak-anak mamak. Dan, setelahnya, berangsur-angsur saya membeli ketiga buku sisanya: Yaitu Amelia, Burlian, dan Eliana.

Serial anak-anak mamak ini menarik. Menceritakan sebuah keluarga kecil yang bahagia tinggal di pedalaman pulau Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari dua orang tua, dan empat anak. Masing-masing anaknya dari yang terbesar bernama Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia. Dan masing-masing dari mereka juga, memiliki novelnya sendiri. Diceritakan menggunakan sudut pandang orang pertama 'aku'. Membuat pembaca menjadi sangat dekat dengan tokoh.

Dengan gaya bertutur seperti itu, Tere Liye berhasil membuat saya dan sebagian besar pembaca mengerti dengan dunia anak-anak. Dan juga membuat sedikit rindu juga, sih. Pasalnya dunia ketika kita lulus sekolah, sudah tidak semenyenangkan: sekolah->pulang->bermain->dan tidur. Hehehe..

Dan seperti halnya anak-anak. Tere Liye menuliskan masing-masing tokoh dengan memandang dirinya yang paling baik. Misalkan di buku Eliana, maka Eliana akan menggambarkan dirinya dengan baik, tetapi menggambarkan ketiga adik-adiknya yang nakal, jahil, suka menangis, suka melapor pada mamaknya. Dan di buku Burlian, maka Burlianlah yang menjelek-jelekkan kakak-kakak dan adiknya. Itu sungguh membuat pembaca gemas! Seolah benar-benar melihat mereka hidup di dunia nyata, dan menceritakan kisah masa kecilnya dalam versinya mereka sendiri.

Di setiap buku sequel anak-anak mamak. Tere Liye menuliskan bab tentang Kasih Sayang Mamak. Menceritakan betapa mamaknya yang meskipun sangat disiplin dan suka mengomel, tetapi sangat menyayangi anak-anaknya. Masing-masing dari anak-anaknya memiliki kisahnya sendiri, hanya Amelia yang tidak. Amelia tidak mengalaminya sendiri, karena dia anak bungsu. Misalkan pada kisah Pukat, Pukat sadar bahwa amaknya sangat menyayanginya ketika Pukat menolak makan saat dimarahi oleh mamaknya. Hingga ia jatuh sakit. Dan mamaknya lah yang menjadi orang pertama dan terakhir yang selalu menemani dia, merawat, mendoakan, Pukat hingga tersedu-sedu menyadari betapa mamaknya menyayanginya. Beda Pukat, beda juga Burlian. Oi, saya di sini bukan hendak spoiler ya, jadi, baca sendiri bukunya!

Intinya, kesan yang saya dapat dari keempat novel dalam sequel Serial Anak-Anak Mamak adalah, bagaimana cara mendidik anak yang baik. Menanamkan pemahaman-pemahaman tentang hidup, bahwa anak-anak adalah masa paling penting untuk menumbuhkan itu semua. Tere Liye benar-benar telah berhasil menghipnotis pembacanya. 

Dari sekian banyak novel Tere Liye yang sudah saya baca, keempat ini adalah salah satu yang paling saya sukai! Jadi, tunggu apa lagi?

2 komentar:

  1. Tere liye emang salah satu penulis favorite widya. beliau memang keren dalam memainkan kata-kata. buku hasil karya nya bener-bener recommended banget :D

    BalasHapus